Fornas PA ke-VI, Kemensos Pantau Pelarangan Pembelian Rokok bagi Keluarga Penerima Bansos

News.lpai.id | Jakarta

Memasuki hari ke dua Forum Nasional Perlindungan Anak (Fornas PA) ke-VI, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) membuka sesi dialog publik yang bertemakan, “Tanggung Jawab Negara dalam Melindungi Masa Depan Anak dari Paparan Produk Industri Rokok Sebagai Bagian dari Program Generasi Indonesia Emas” yang di Moderatori oleh Program Manager Tobacco Advertising Promotion and Sponsorship Ban LPAI, Wilfun Afnan.

Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) turut mengambil bagian dalam sesi dialog publik tersebut. Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos, Dr. Kanya Eka Santi sebagai narasumber yang membahas terkait ‘Strategi dan Regulasi dalam Mengontrol Pelarangan Pembelian Rokok bagi Keluarga Penerima Bansos’ memaparkan beberapa rumusan program bagi keluarga penerima bansos.

Menurut Kanya dalam paparannya, ada beberapa poin yang harus menjadi perhatian dalam melindungi masa depan anak, diantaranya situasi anak di Indonesia, program bantuan sosial bagi anak dan keluarga, pemanfaatan bantuan sosial yang kurang tepat, dampak pemanfaatan bantuan sosial yang kurang tepat bagi anak, serta strategi dan regulasi Kemensos dalam mendorong pelanggaran pembelian rokok.

Kanya menjelaskan situasi anak Indonesia, dari data sensus penduduk tahun 2020 menyatakan total populasi anak Indonesia mencapai 84,4 juta jiwa atau 31,23% dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut terdapat anak-anak yang “kurang beruntung” dan dikategorikan sebagai Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), sehingga Kemensos memberikan bantuan bagi anak dan keluarga tersebut.

“Dari data PPKS anak di Aplikasi SIKS NG per 23 Oktober 2021, terdapat 7.875 Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK), 9.069 Anak Jalanan, 12.013 Balita, 112.212 Anak yang Memerlukan Pengembangan Fungsi Sosial, 2.664 Anak yang Berhadapan Dengan Hukum, serta 65.347 Anak Terlantar. Sehingga total data anak yang masuk dalam kategori PPKS mencapai 235.245 jiwa anak,” jelas Kanya dalam paparannya pada dialog publik Fornas PA ke-VI di Pagaruyung Ballroom lt.3, Hotel Balairung, Matraman Raya, Jakarta Timur, Rabu (27/10/2021) pagi.

Sementara untuk program bantuan sosial bagi anak dan keluarga berlandaskan pada UU No. 11 Tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial dan UU No. 13 Tahun 2011 tentang penanganan fakir miskin.

Kemensos melalui Direktorat Jenderal (Dirjen) Perlindungan Jaminan Sosial (Linjamsos) dalam mecegah dan menangani risiko dari guncangan kerentanan sosial memiliki target 10 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan anggaran Rp. 28,31 Trilliun, Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin (PFM) untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap negara memiliki target 18.8 juta Kepala Keluarga (KK) dengan anggaran sebesar Rp. 42,37 Trilliun.

Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial (Rehabsos) dengan program unggulannya melalui ATENSI untuk memulihkan dan mengembangkan fungsi sosial memiliki target 142.000 jiwa dengan anggaran Rp. 332,9 Milyar, serta Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial (Dayasos) melalui program unggulan menjadikan warga negara yang bermasalah sosial memiliki daya dengan target 8.000 KPM yang memakan anggaran sebesar Rp. 27, 16 Milyar.

Kemensos menilai, bagi keluarga miskin penerima bansos yang menggunakan anggarannya untuk membelikan rokok, termasuk dalam pemanfaatan bantuan sosial yang kurang tepat sasaran.

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos, Dr. Kanya Eka Santi saat menjelaskan tentang strategi dan regulasi dalam mengontrol pelarangan pembelian rokok bagi keluarga penerima bansos.

“Kemensos akan mengambil sikap tegas kepada penerima bansos yang tidak tepat sasaran karena menggunakan dana bantuan untuk membeli rokok atau tidak sesuai dengan ketentuan yang di standarisasikan dari masing-masing Direktorat Jenderal terkait, maka bantuan akan langsung dihentikan,” tegas Kanya dalam paparanya di Fornas PA ke-VI.

Bantuan Sosial (Bansos) bagi anak yang kurang tepat sasaran memilik dampak yang akan mempengaruhi tumbuh kembang anak.

“Tentunya bansos yang tidak tepat sasaran sangat berdampak bagi anak, seperti terganggunya kebutuhan esensial/dasar anak dalam nutrisi, pendidikan, dan kesehatan. Anak juga akan lebih rentan dalam lingkungan yang tidak aman. Kesehatan anak juga akan berbahaya bila ada keluarga yang mengkonsumsi rokok. Dalam jangka panjangnya, akan berpotensi untuk menurunkan kualitas diri/kepercayaan diri anak,” terangnya.

Atas dasar tersebut, Kemensos melakukan langkah-langkah taktis dalam penanganan yang harus dilakukan, seperti membuat kebijakan larangan dana bansos untuk pembelian rokok, melaksanakan kegiatan dukungan penguatan kapasitas anak dan keluarga, kampanye sosial terkait pencegahan anak membeli rokok, penyuluhan sosial secara massif terkait larangan rokok, membentuk komunitas peduli anak dalam pencegahan konsumsi rokok, menyediakan nomor layanan pengaduan masyarakat, penguatan kapasitas pendampingan rehabilitasi sosial anak, dan masih banyak lagi program Kemensos lainnya.

“Kemensos perlu melakukan langkah tersebut agar penerima bansos dapat menggunakan dana bantuan menjadi manfaat, baik untuk anak dan keluarga,” tambah Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos.

Pada akhir sesi, Sekretasi Jenderal (Sekjen) LPAI Henny Adi Hermanoe menyampaikan bahwa yang tidak kalah pentingnya untuk menjadi perhatian bersama terkait iklan-iklan positif pencitraan yang justu menyesatkan anak-anak.

Kak Henny Adi Hermanoe saat menyampaikan harapannya terkait anak Indonesia terbebas dari rokok kepada Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos, Dr. Kanya Eka Santi, Rabu (27/10/2021) pagi.

“Kami sudah melakukan kunjungan dan berkerjasama dengan beberapa kementerian, seperti Kemensos, Kemen PPPA, Kominfo, Menko PMK masih proses. Satu-satunya cara untuk menyuruh pemerintah meratifikasi Framework Convention on Tobecco Control (FCTC). Kita akan coba untuk melakukan diskusi lintas kementerian secara intens agar penerima PKH terbebas dari para perokok. Kita akan dorong itu semua agar anak-anak Indonesia terbebas rokok dan mendapatkan yang terbaik untuk tumbuh kembang anak,” harap Kak Henny. (red/lpai)

__Terbit pada
Oktober 27, 2021

Penulis: Michael

I Can See U But U Can't See Me

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *