Ternyata Awal Diadakan Hari Anak Nasional Bukan Tanggal 23 Juli

Dalam rangka merayakan Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli 2021, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) merayakan HAN secara virtual, dengan topik “Bincang Santai Bersama Kak Seto dan Duta Anak Indonesia”.

Ngobrol santai HAN, turut mengundang Ketua Umum LPAI, Seto Mulyadi yang akrab disapa Kak Seto, Kak Henny Adi Hermanoe (Sekjen LPAI), I Made Bulan Cantika Maharani (Duta Anak Indonesia Provinsi Bali), Adelia Najwa Rahmadiyanti (Duta Anak Indonesia Provinsi NTB), Kakak-kakak dari Lembaga Perlindungan Anak seluruh Indonesia.

Acara dibuka dengan mendengarkan lagu Indonesia Raya dengan himat. Acara dilanjutkan langsung inti yaitu cerita perjalanan lahirnya Hari Anak Nasional oleh Kak Seto. Pada tahun 1952 diperingati sebagai hari kanak-kanak nasional, diselenggarakan tiap tahun pada pertengahan bulan Juli. Pada tahun 1954, diputuskanlah Hari Anak Nasional jatuh pada 6 Juni, bertepatan dengan hari ulang tahun Presiden Sukarno.

Berjalannya waktu, Presiden Soeharto mengeluarkan Kepres 44 tahun 1984, yang mengesahkan Hari Anak Nasional diselenggarakan pada 23 Juli.

Kak Henny menambahkan bahwa Kak Seto merupakan salah satu tokoh pelaku sejarah anak hingga diciptakannya Hari Anak Nasional.

“Berbicara tentang Hari Anak Nasional, sebenarnya usulan pertama datang dari Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada tahun 1946. Dalam keputusan kongres tahun 1951, diusulkan Hari Anak jatuh pada tanggal 6 Juni, sedangkan 1 Juni diperingati Hari Anak Internasional. Sehingga, waktu itu dianggap sebagai salah satu blok dalam percaturan Internasional.” jelas Kak Seto secara virtual di Jakarta, Jumat (23/7/2021)

“Sempat dikaitkan juga dengan Hari Proklamasi Indonesia, sehingga diputuskan juga pada 17 Juni. Namun, para aktivis anak saat itu berniat mengubahnya menjadi 23 Juli, karna berkaitan dengan di sahkannya UU Kesejahteraan Anak pada 23 Juli 1979. Bersamaan dengan ditetapkannya oleh PBB sebagai tahun Internasional Anak-anak. Sehingga, pada tahun itu Presiden Soeharto mengeluarkan Kepres Nomor 44 tahun 1984 sebagai Hari Anak Nasional, dan mulai diperingati pada tahun 1986.” tambah Kak Seto ketika menceritakan lahirnya Hari Anak Nasional.

Pada acraa HAN 2021 tersebut, Kak Henny selaku Sekjen LPAI juga turut menceritakan kenangan indah sebelum lahirnya Hari Anak Nasional hingga terbentuknya Kongres Anak yang melibatkan suara anak dalam mengambil keputusan, karena salah satu hak anak adalah didengar suaranya.

Masa PPKM Level 4 ini tidak mengurangi kemeriahan perayaan Hari Anak Nasional yang dilakukan secara virtual. Kak Henny selaku moderator acara, terlihat antusias dalam memimpin acara diskusi santai itu.

Diutarakan Kak Henny, jika orang tua harus berperan aktif menjadi pengawas utama dalam mengawas anak-anak di rumah saat pandemi.

“Orang tua harus lebih aktif dalam mengawasi anak-anak di rumah. Penggunaan gedget yang terlalu sering juga tidak bagus terhadap terhadap kesehatan anak. Untuk itu dibutuhkan perhatian dari orang tua untuk tetap mengawasi anak-anaknya tanpa mengurani hak anak.” papar Sekjen LPAI itu

“Orang tua juga harus konsisten dalam membuat aturan, jangan sampai malah orang tua sendiri yang melanggar kesepakatan dengan anak. Anak-anak akan bisa menerima segala aturan yang telah disepakati, selama orang tua tidak melanggarnya.” tambahnya

Acara itu menjadi lengkap, dengan berbagi pengalaman dari Duta Anak Indonesia dan sessi tanya jawab yang seolah tidak ingin acara berakhir.

Di masa pandemi ini, pemerintah harus lebih extra lagi memperhatikan anak-anak. Pasalnya, tidak sedikit penerus generasi bangsa menjadi korban keganasan Covid-19. Semoga Hari Anak Nasional dapat menumbuhkan kecerianan anak Indonesia dalam berkreativitas.

Selamat Hari Anak Nasional untuk anak-anak di Indonesia. Tetaplah bahagia di rumah saja. Anak terlindungi Indonesia maju, anak peduli di masa pandemi.

__Terbit pada
Juli 28, 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *